×
Ketua SATGAS MBG “IPAL Komponen Krusial Dalam Pengelolaan Dapur SPPG”

Pagar Alam,- Menindaklanjuti Hasil Rapat Koordinasi Pelaksanaan MBG di Kota Pagar Alam Triwulan I (Satu) tentang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Ruang Rapat Besemah Satu Sekretariat Daerah Kota Pagar Alam, Selasa (31/03/2026). Satgas MBG Kota Pagar Alam bersama Badan Gizi Nasional melaksanakan koordinasi lanjutan tentang pembangunan IPAL oleh dapur SPPG yang ada di Kota Pagar Alam yang sesuai dengan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah, Selasa (14/04/2026)

 

Perwakilan BGN yang melaksanakan koordinasi yaitu Kepala SPPG Alun Dua, Pahmi Putra Baroqah; Kepala SPPG Nendagung 5, Deri Arianto; Kepala SPPG Rebah Tinggi, Recsi Herliansyah; dan Kepala SPPG Dempo Makmur, Oktori Heriansah.

 

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi komponen krusial dalam pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Keberadaan IPAL tidak hanya mendukung kebersihan operasional dapur, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan serta kesehatan masyarakat.

 

Dapur SPPG yang setiap hari memproduksi makanan dalam jumlah besar tentu menghasilkan limbah cair, seperti sisa air pencucian bahan makanan, minyak, dan residu lainnya. Tanpa pengolahan yang baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan, terutama sumber air di sekitar lokasi dapur. Oleh karena itu, IPAL hadir sebagai solusi untuk mengolah limbah cair agar aman sebelum dibuang ke lingkungan.

 

Ketua Satgas MBG Kotan Pagar Alam, Jepri Zulfikar, SP.,M.Si mengatakan Pemerintah Daerah terus mendorong setiap dapur SPPG untuk memiliki dan mengoperasikan IPAL secara optimal. Pengawasan dan pembinaan rutin dilakukan guna memastikan sistem IPAL berjalan sesuai standar.

 

“Pengelolaan limbah melalui IPAL mencerminkan pengelolaan dapur yang profesional dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tujuan program pemenuhan gizi yang tidak hanya berfokus pada kualitas makanan, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, keberadaan IPAL dalam dapur SPPG bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam menciptakan sistem pengelolaan pangan yang aman, sehat, dan ramah lingkungan,” ucapnya (Chandra dan Alan)